Inilah Perbedaan Kehamilan Perawan Maria Versi Alkitab Dan Alquran

Dari diskusi dengan netters Kristen di forum tentang proses kehamilan Maria dan kelahiran Yesus, ada pernyataan standard yang selalu dikemukakan, bahwa julukan ‘anak Tuhan’ kepada Yesus bukanlah seperti halnya yang terjadi pada manusia biasa, contoh terakhir dari pernyataan tersebut misalnya diajukan :

mulai dari zaman para rasul sampai kiamat, orang-orang Kristen tak pernah percaya dan beriman bahwa Allah beranak seperti halnya perempuan melahirkan.
kalau al quran menuliskan bahwa orang-orang Nasrani mengatakan “Tuhan beranak”, maka, maaf saja, al quran salah duga.

http://forum-swaramuslim.net/threads.php?id=43763_45_15_0

 

lalu biasanya dilanjutkan dengan tuduhan balik, bahwa apa yang disebutkan dalam Al-Qur’an karena ajaran Islam sudah salah mengartikan apa yang dimaksud dengan istilah ‘anak Tuhan’ tersebut, ayat yang dimaksud adalah :

[2:116] Mereka (orang-orang kafir) berkata: “Allah mempunyai anak”. Maha Suci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepada-Nya.

[10:68] Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata: “Allah mempuyai anak”. Maha Suci Allah; Dia-lah Yang Maha Kaya; kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang di bumi. Kamu tidak mempunyai hujjah tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?

[19:35] Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia.

[23:91] Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu,

[37:152] “Allah beranak”. Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta.

 

Dari rentetan ayat tersebut, jelas Al-Qur’an menyatakan penyangkalan tentang status ‘anak Tuhan’, termasuk seperti yang terdapat dalam ajaran Kristen, karena status ‘anak Tuhan’ memang merujuk kepada ‘Tuhan beranak’ seperti halnya manusia atau binatang beranak. Lalu apakah bisa dikatakan Al-Qur’an telah salah tafsir terhadap apa yang yang dimaksud dengan ‘Yesus anak Tuhan’..?? Satu-satunya jalan untuk mengujinya adalah dengan melihat penjelasan alkitab tentang proses kelahiran Yesus, lalu kita akan kemukakan bagaimana Al-Qur’an yang turun sesudahnya berusaha ‘membersihkan’ cerita tersebut dari nuansa-nuansa yang terkesan sangat merendahkan Tuhan, karena dalam alkitab Tuhan digambarkan telah melakukan ‘sesuatu’ tindakan untuk menghamili Maria.

 

Cerita disekitar kehamilan Maria dimulai dengan penggambaran yang seolah-olah hampir sama sama antara alkitab dan Al-Qur’an, kisahnya dimulai ketika malaikat datang kepada Maria lalu memberikan informasi :

Luk 1:30 Kata malaikat itu kepadanya: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.
Luk 1:31 Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.

Disitu jelas dikatakan bahwa Maria akan ‘mengandung’ dan ‘melahirkan’ anak laki-laki dan kehamilan Maria tersebut disebabkan oleh ‘kasih karunia’ Tuhan, suatu pernyataan yang merujuk kepada proses biologis seperti yang terjadi pada makhluk biasa, hewan dan manusia, bahwa kehamilan seorang wanita dan kelahiran anak disebabkan oleh kasih karunia dari pasangannya. Lalu penjelasan malaikat selanjutnya makin memperkuat bagaimana hubungan antara anak yang akan dilahirkan dengan Tuhan yang telah memberikan ‘kasih karunia’ nya kepada Maria :

Luk 1:32 Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi.

 

Dari sumber Al-Qur’an, pernyataan malaikat tersebut adalah :
idz qaalati almalaa-ikatu yaa maryamu inna allaaha yubasysyiruki bikalimatin minhu
[3:45] (Ingatlah), ketika Malaikat berkata: “Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya,

idz = ketika
qaalati = berkata
almalaaikatu = para malaikat
yaa maryamu = wahai Maryam
inna = sungguh
Allaaha = Allah
yubasysyiruki = menghibur kamu
bikalimatin = dengan kalimat
minhu = dari-Nya

Atau dalam ayat yang lain :
qaala innamaa anaa rasuulu rabbiki li-ahaba laki ghulaaman zakiyyaan
[19:19] Ia (jibril) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci”.

qaala = dia berkata
innamaa = sungguh hanyalah
anaa = aku
rasuulu = utusan
rabbika = Tuhan kamu
li-ahaba = untuk aku memberi
laki = kepada kamu
ghulaaman = seorang anak laki-laki
zakiyyan = yang suci

Kedua ayat ini menyimpulkan bahwa terjadinya kehamilan Maryam karena kalimat dari Allah yang diberikan oleh sesuatu yang mengaku utusan dari Allah. Sekalipun kita mau menafsirkan secara ‘nyeleneh’ atas kata ‘li-ahaba = memberikan’, katakanlah kita mau tafsirkan dengan suatu kegiatan seksual, maka tetap saja kegiatan tersebut tidak merujuk kepada Allah, melainkan kepada utusan yang telah diutus. Menurut saya, ini merupakan sinyal ilmu pengetahuan tentang proses kelahiran nabi ‘Isa Almasih, bagaimana detailnya suatu ‘kalimah’ dari Allah yang diberikan oleh ‘sesuatu’ yang disebut sebagai ‘ruh yang diutus Allah yang menyerupai manusia yang sebenarnya’ [QS 19:17]. Tapi jawaban Maryam terhadap kata ‘li-ahaba’ ini kelihatannya jauh dari kesan si utusan akan melakukan kegiatan seksual terhadap dirinya, karena Maryam menyatakan :
[19:20] Maryam berkata: “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!”

Tanggapan ini serupa dengan ucapan Maryam ketika diberitahukan oleh para malaikat bahwa Allah akan menghibur dia dengan kalimat-Nya pada QS 3:45 :
[3:47] Maryam berkata: “Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun.”

Kedua informasi ini mengindikasikan bahwa apa reaksi Maryam tidaklah terkait dengan persoalan ‘kalimat Allah’ ataupun ‘utusan yang akan memberikan’, tapi merupakan reaksi manusia biasa yang mendengar bahwa dia akan hamil dan melahirkan anak secara manusiawi, bahwa kehamilan dan kelahiran anak hanya bisa terjadi kalau dia melakukan hubungan seksual dengan seorang laki-laki. Kalaulah Maryam beranggapan si utusan akan melakukan suatu aktifitas seksual terhadapnya sudah pasti jawabannya tidak demikian.

 

Apa yang diceritakan dalam alkitab kelihatannya persis sama :

Luk 1:34 Kata Maria kepada malaikat itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?”

Ketika kita kaitkan dengan perkataan malaikat sebelumnya yang memberikan informasi kehamilan Maria dengan nuansa seksual, maka reaksi Maria terlihat bukan datang dari ‘pengetahuan standard’ seorang manusia tentang kehamilan, tapi sedikit-banyak dipengaruhi oleh ucapan malaikat yang memang mengarah kepada adanya suatu aktifitas seksual.

 

Kisah selanjutnya memberikan garis batas yang jelas buat kita, bagaimana Al-Qur’an kemudian ‘bersimpang-jalan’ dengan alkitab :

Luk 1:35 Jawab malaikat itu kepadanya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.

 

Menanggapi ayat alktab ini, Ahmad Deedat dalam bukunya ‘The Real Truth, Meruntuhkan Pilar-pilar Iman Kristiani’ menyatakan :

“Dengan demikian, tahukan anda jika ini bisa menjadi tongkat pemukul yang bisa digunakan oleh orang atheis, skeptis dan antagonis untuk bisa menyerang anda. Mengenai hal ini, orang-orang tersebut pasti akan bertanya-tanya :”Bagaimana cara Roh Kudus turun atas Maria..?? bagaimana cara Allah Yang Mahatinggi melindunginya..?”, Padahal kita tahu secara literal, ini tidak berarti bahwa merupakan satu konsepsi yang sempurna, tetapi bahasa yang digunakan tersebut hambar..”.

 

Sebaliknya Al-Qur’an memberikan jawaban :
[3:47]…Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah”, lalu jadilah dia.

 

atau dalam ayat lainnya :
[19:21] Jibril berkata: “Demikianlah”. Tuhanmu berfirman: “Hal itu adalah mudah bagiKu; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan”.

Terdapat satu hal penting dari kedua penjelasan ini, alkitab terlihat memposisikan Tuhan sebagai ‘substitusi’ dari kegiatan seksual yang disangkakan oleh Maria, bahwa Tuhan dan Roh Kudus melakukan ‘kerjasama’ yang mengakibatkan Maria hamil. Alkitab sama sekali tidak menyangkal atau menyalahkan persangkaan Maria bahwa terjadinya kehamilan seorang wanita semata-mata hanya karena adanya aktifitas seksual dari laki-laki, Tuhan seperti yang diceritakan alkitab telah ‘mengambil-alih’ perbuatan tersebut dengan ‘turun diatas Maria dan menaunginya’. Sebaliknya Al-Qur’an terlihat memberikan sanggahan terhadap apa yang dipersangkakan Maryam, bahwa kehamilan tidak harus terjadi karena seorang wanita didekati dan disentuh oleh laki-laki, malaikat ataupun utusan (oleh sebagian besar ahli tafsir dikatakan adalah malaikat Jibril) menyatakan bahwa dengan kehendak dan kuasa Allah, seorang wanita bisa saja hamil tanpa disentuh laki-laki, lebih lanjut Al-Qur’an menjelaskan pada ayat lainnya :
[3:59] Sesungguhnya misal (penciptaan) ‘Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia.

Al-Qur’an yang turun ratusan tahun setelah alkitab memposisikan dirinya sebagai sesuatu yang ‘membersihkan’ gambaran Tuhan disekitar peristiwa ini, alkitab jelas telah ‘kurang-ajar’ menghina Tuhan karena menggambarkan-Nya telah melakukan suatu aktifitas ‘seperti manusia’ sehingga menyebabkan Maria hamil, Al-Qur’an meluruskan ke-sembrono-an ini dengan kembali menempatkan Allah sebagai Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Berkehendak, Dia bisa melakukan apapun yang diinginkan-Nya sekalipun keluar dari yang hal semestinya terjadi.

 

Apakah alkitab berhenti sampai disini..?? kelihatannya kekurang-ajaran ini masih berlanjut, dalam ayat lain dikatakan :

1:18 Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri.

Matius, si penulis alkitab yang diakui mendapat wangsit dari Roh Kudus menjelaskan soal asal-usul Yesus Kristus, setelah pada ayat sebelumnya berkali-kali menyampaikan soal ‘anak yang diperanakkan’, suatu penjelasan tentang kelahiran manusia yang terkait dengan proses hubungan seksual, lalu akhirnya menyatakan bahwa Yesus lahir karena ibunya ‘mengandung DARI Roh Kudus’. Apa maksud Matius menempatkan kalimat tersebut dalam konteks silsilah yang penuh nuansa ‘anak yang diperanakkan’..?? Apa yang ada dalam pikiran anda ketika kita sedang bicara soal anak keturunan yang lahir dari si anu dengan bapak dan ibunya si anu, lalu diakhiri dengan pernyataan bahwa si anu lahir karena ibunya mengandung DARI bapaknya..?? Tidak heran kalau kemudian Billy Graham, seorang evangelis terkenal di Amerika Serikat pernah menggambarkan :

“Billy Graham dari Amerika Serikat mendramatisir ayat ini di depan 40.000 orang di King Park, Durban dengan menggunakan gerakan tangan untuk meyakinkan pendengarnya, dia berkata :”Roh Kudus telah datang dan menghamili Maria..”.

(The Real Truth, Meruntuhkan Pilar-pilar Iman Kristiani – Ahmed Deedad), selanjutnya Ahmed Deedad memberikan argumentasi yang ‘memerahkan telinga’ setiap penganut Kristen :

“Yesus adalah satu-satunya anak yang diperanakkan Tuhan, diperanakkan bukan diciptakan”, kata-kata ini adalah sebuah tambahan dari katekismus ortodoks yang mendapat sedikit dukungan dalam ayat ini :

Yoh 3:16 : Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan anak yang diperanakkan-Nya yang tunggal, supaya setiap orang percaya pada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (terjemahan Bahasa Indonesia dari Authorized Version)

Tidak seorang pendetapun yang mengutip kalimat ‘satu-satunya anak yang diperanakkan’ ketika mengajar calon pemeluk agamanya. Akan tetapi penulisan ‘diperanakkan’ sekarang telah dihilangkan oleh para perevisi alkitab, tanpa permintaan maaf. Mereka diam dan tidak menarik perhatian pembacanya terhadap penghilangan kata secara sembunyi-sembunyi yang mereka lakukan”.

 

Armansyah, dalam satu tulisannya menyatakan :

Ketika kemudian ada pihak Kristen menyangkal bahwa penunjukan Allah dalam al-Qur’an terhadap adanya makna anak biologis terhadap Yesus oleh kaum Kristiani adalah sesuatu yang salah, maka secara otomatis orang-orang seperti ini telah mengingkari akan konsepsi ketuhanan dalam wujud daging yang diperanakkan oleh manusia (artinya daging diperanakkan oleh daging) yang lalu dagingnya itu sendiri kekal (tidak menjadi binasa).

Kisah Para Rasul 2:31 : “Karena itu ia telah melihat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias, ketika ia mengatakan, bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, dan bahwa daging-Nya tidak mengalami kebinasaan”.

http://islamic.xtgem.com/ibnuisafiles/list/nov08/favo/armansyah/07.htm

 

Alkitab telah menggiring pembacanya untuk berpikiran bahwa Yesus memang lahir akibat adanya hubungan ‘yang mirip dengan hubungan seksual’ antara Maria dengan Tuhan sehingga Yesus Kristus dikatakan ‘Tuhan yang berbentuk/menjelma menjadi daging’, sekalipun daging Yesus dikatakan berbeda dengan daging manusia biasa, namun tetap saja itu adalah merupakan daging, suatu benda yang melekat sifat-sifat biologis dan terlahir akibat adanya suatu kegiatan yang bernuansa biologis juga.

Penyangkalan netters Kristen tentang proses kehamilan Maria dan status ‘anak Tuhan’ yang disematkan pada diri Yesus Kristus menunjukkan adanya sikap ‘dibawah sadar’ bahwa sebenarnya penganut Kristen merasa malu menerima ajaran tentang ‘Tuhan yang berproses menjadi daging’, mereka lalu berusaha mencari penghalusan-penghalusan untuk menutupinya, lalu lahirlah pernyataan yang ‘jauh panggang dari api’ terhadap ayat alkitab, lain yang disampaikan alkitab, lain pula yang diungkapkan dalam pernyataan yang disampaikan..

Jadi pernyataan Al-Qur’an terhadap alkitab tidaklah meleset, Al-Qur’an seolah-oleh ‘menguliti’ hati nurani setiap pemeluk Kristen terhadap ajaran mereka sendiri, sekalipun mulut mereka menyangkalnya..