Di Yaman Kegiatan Sholat Taraweh Mencapai 100 Rakaat

teraweh 100 rakaat sampai subuh di yaman

BERPUASA pada siang hari dan beribadah sebelah malamnya dengan mengerjakan shalat tarawih sepanjang bulan Ramadan merupakan dua amalan yang penuh dengan keistimewaan dan keberkatan.


Keduanya begitu sinonim dan sulit dipisahkan karena ia memberi manfaat tersendiri bagi umat Islam dalam melaksanakan ibadah tersebut.

Jika tertinggal atau tidak mengerjakan salah satunya, maka puasa atau shalat tarawih yang dilakukan bukan saja terasa kosong, bahkan sia-sia. Sebaliknya, seseorang itu hanya mendapat kepenatan.

Untuk Haniff Abu Thalib, 23, mahasiswa jurusan Ijazah takhassus Qiraat Shoubra di Maahad Qiraat Al-Azhar, Mesir, kedatangan Ramadan sangat ditunggu-tunggu meskipun ia berada di perantauan.

Bagi masyarakat Asia Barat, Ramadhan begitu istimewa terutama dalam mengerjakan ibadah tarawih.
“Sepanjang menuntut di Mesir sejak dua tahun lalu, saya berkesempatan mengunjungi daerah Tarim di Hadramaut, Yemen.

Pengalaman pertama kali berada di Masjid Tarim sangat menarik karena kami langsung tidak tidur malam.
“Masyarakat Yemen melaksanakan ibadah sebanyak-banyaknya pada malam-malam bulan Ramadan. Setelah shalat Maghrib, mereka terus melakukan shalat tasbih massal. Kemudian, setelah isya, shalat tarawih dilakukan sebanyak 100 rakaat.
“Mereka seolah-olah mengqadha semua shalat-shalat sunat yang ditinggalkan dahulu untuk merebut pahala ibadah berlipat ganda yang dijanjikan Allah di bulan ini. Bayangkan hebatnya masyarakat Islam di Hadramaut menunaikan ibadah, “jelas Haniff yang berhasil khatam al-Quran Riwayat Imam Qolun dan Imam Abu Ja’far secara talaqqi di depan Sheikh Waeel Hajjaj di Mesir.

 

Pusat ilmu
Haniff juga pernah berkunjung ke Masjid Ba’alawi dan tidak melepaskan peluang mengerjakan shalat tarawih bersama ulama terkemuka Yemen, Habib Umar bin Hafidz di Darul Mustofa, Tarim, Hadramaut.

Tarim adalah sebuah kota kecil yang terletak sekitar 500 kilometer dari ibu kota Yemen, Sana’a. Menurut Ensiklopedia Islam, ia juga disebut sebagai kota Seribu Wali dan terkenal sebagai pusat ilmu dan penyebaran Islam ke seluruh dunia.

Di Yemen, terdapat 365 buah masjid. Setiap kali Ramadan, shalat tarawih akan dikerjakan sepanjang malam sampai shalat Subuh. Kondisi itu memungkinkan para jamaah memilih waktu yang diinginkan untuk menunaikan shalat tarawih di mana-mana masjid yang ada.

Menurut anak kelahiran Port Dickson, Negeri Sembilan itu, di Malaysia lain pula ceritanya. Bila Ramadan menjengah, kehangatan Aidilfitri sudah dirasakan. Namun, di Mesir, bulan Ramadan dirasakan seolah-olah hari raya.

“Di Mesir, Ramadan disambut meriah seperti hari raya. Kebanyakan penduduk akan memasang pelita besar yang dikenal sebagai fanus. Ia akan ditulis dengan kalimat Allah atau perkataan Ramadan Kareem. Setiap masjid pula biasanya akan menyediakan makanan untuk berbuka puasa yang dinamakan maidatur rohman, “terangnya lebih lanjut.

 

Penyucian jiwa
Apa yang pasti, kehadiran Ramadan selalu dirindui umat Islam yang mengetahui hakikat kemuliaan bulan tersebut. Ramadan merupakan bulan yang mampu mengembalikan kesehatan orang berpuasa dan penyucian jiwa dengan mengekang hawa nafsu dari bertindak keterlaluan.

Menyadari pentingnya melaksanakan shalat tarawih, Wakil Dekan Urusan Pelajar, Kuliyyah Rekayasa, Universitas Islam Internasional Malaysia (UIAM), Dr. Zuraida Ahmad, 44, mendorong beliau membawa anak-anak ke masjid untuk menunaikan ibadah tersebut.

Menurut ibu kepada lima bocah yang terdiri dari seorang perempuan dan empat pria itu, semua itu dilakukan untuk mendidik mereka mengenal agama.
“Saya mulai membawa anak-anak ke masjid ketika mereka berumur lima tahun. Bagi saya, ia waktu yang sesuai untuk mengajar mereka kelebihan melakukan shalat tarawih pada bulan Ramadan. Antaranya termasuk mendidik mereka tentang adab-adab ketika berada di rumah Allah.
“Insya-Allah, saat melakukannya kita bisa membentuk dan melahirkan generasi anak-anak shaleh yang mampu menjadi penyejuk mata dan hati para orang tua,” ungkap Zuraida sambil tersenyum lantas meminta pendapat suaminya, Meor Abdul Razak Meor Musa.

Insinyur itu memberitahukan, anak-anak akan melihat orang tua sebagai contoh terhadap apa yang ingin dilakukan. Jadi, sudah pasti orang tua harus menunjukkan akhlak dan pribadi yang baik untuk mereka.”Pada usia lima tahun, bohonglah kalau kita katakan anak-anak ini akan selalu mendengar kata dan berkelakuan baik apabila dibawa ke masjid. Sebaliknya harus diakui sifat kekanak-kanakan masih melingkari dalam diri mereka.
“Justru, ada langkah-langkah yang bisa diambil untuk mengontrol perilaku mereka agar tidak mengganggu jamaah lain. Antaranya membawa buku mewarna dan perlengkapan alat tulis termasuk pensil warna.
“Bila memiliki aktivitas seperti melukis dan mewarna, ia secara tidak langsung akan menentramkan anak-anak dan mereka lebih fokus.

Apa yang penting adalah membiasakan mereka dengan suasana di dalam masjid seperti ketika mengerjakan shalat tarawih, “tutur Meor Abdul Razak.
Memilih Masjid Darul Ehsan di Taman Tun Abdul Razak, Tangerang, Banten untuk menunaikan shalat tarawih pada malam pertama Ramadan, pasangan suami istri itu juga membawa semua anak mereka yaitu Meor Muhammad Hakim, 16, Siti Hajar Hadhirah, 12, Meor Abdullah Harith, 10 , dan pasangan kembar Meor Adam Hazrieq dan Meor Ahmad Hazieq, 8.
Untuk Meor Ahmad Hazieq, dia mengaku hanya melaksanakan shalat tarawih delapan rakaat dibandingkan 20 rakaat yang dilakukan pihak masjid tersebut.
“Saya berhenti setelah delapan rakaat karena terasa penat. Kemudian setelah itu, saya hanya duduk di belakang sambil melihat orang banyak. Tahun ini, saya harap dapat menunaikan shalat tarawih setiap hari sepanjang Ramadan, “ujarnya yang bersyukur karena memiliki orang tua yang prihatin terhadap aspek pendidikan agama kepada anak-anak.

Sementara itu, Imam I Masjid Darul Ehsan, Mohamad Khairi Hussein mengatakan, pihaknya sepakat mendirikan shalat tarawih sebanyak 20 rakaat untuk Ramadan tahun ini dibandingkan delapan rakaat tahun lalu.
“Tidak ketinggalan, kami juga turut mengadakan sesi tadarus al-Quran setelah tarawih dalam kalangan anggota kariah pria yang berminat. Aktivitas ini berlangsung hingga pukul 11.30 malam.

“Di samping itu, antara aktivitas lain yang dianjurkan pihak masjid termasuk berbuka puasa dan moreh setiap hari yang disponsori oleh anak-anak kariah, tadarus al-Quran untuk akhwat di sebelah pagi dan majlis sempena memperingati penurunan al-Quran atau Nuzul Quran pada malam 27 Ramadan, “jelas Mohamad Khairi sambil memberitahu masjid tersebut bisa memuat sekitar 2.000 jemaah dalam satu-satu waktu. (BerbagaiSumber)

About these ads